Cegah Wabah Campak hingga TB, Kaltara Masifkan Deteksi Dini di Tengah Masyarakat

By Redaksi

BULUNGAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) memperkuat barisan dalam menghadapi ancaman berbagai penyakit menular di masyarakat. Penguatan sistem deteksi dini menjadi strategi utama untuk mencegah lonjakan kasus penyakit yang rentan menyebar luas, seperti campak, demam berdarah dengue (DBD), tuberkulosis (TB), HIV/AIDS, dan malaria.

Kepala Dinkes Kaltara, Usman, menyatakan bahwa campak saat ini menjadi salah satu fokus utama yang membutuhkan penanganan segera. Ia mengungkapkan kekhawatirannya karena sejumlah kasus yang tercatat di Kaltara memiliki risiko untuk meningkat menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Saat ini kita benar-benar harus waspada terhadap penyebaran campak. Penanganan yang cepat sangat diperlukan agar kasus-kasus yang ada tidak berujung pada KLB,” tegas Usman, Kamis (8/10).

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes telah menyiagakan dan menurunkan tim kesehatan secara langsung ke lapangan. Tim ini bahkan telah merambah ke wilayah perbatasan, termasuk Kabupaten Malinau, setelah adanya laporan kasus campak di area tersebut.

Tidak hanya campak, ancaman DBD juga membayangi wilayah Kaltara seiring dengan cuaca yang kian fluktuatif. Usman secara khusus mengingatkan warga untuk tidak lengah dan terus mempraktikkan gaya hidup bersih dan sehat. Gerakan 3M—yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang—harus menjadi rutinitas harian untuk memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Prioritas Penanganan TB dan Penghapusan Stigma

Lebih lanjut, Dinkes Kaltara juga tengah menggenjot program pemberantasan Tuberkulosis (TB). Upaya ini dilakukan melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan medis, yang bertujuan memaksimalkan proses skrining dan deteksi awal.

Menurut Usman, percepatan deteksi dini TB ini bukan hanya inisiatif lokal, melainkan juga respons terhadap prioritas pemerintah pusat yang tercantum dalam Asta Cita Presiden. Namun, ia menyayangkan masih adanya pandangan miring di masyarakat yang menganggap TB sebagai penyakit aib atau hal yang memalukan.

“Masih banyak masyarakat yang enggan memeriksakan diri karena malu. Sekali lagi, TB bukanlah penyakit kutukan! Kita harus bersama-sama menghapus stigma tersebut,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa penderita TB memiliki peluang besar untuk sembuh total asalkan mereka menjalani pengobatan dengan tepat, disiplin, dan tuntas dalam kurun waktu sekitar enam bulan.

Melalui upaya deteksi dini yang kian masif ini, Dinkes Kaltara menargetkan agar penderita penyakit menular dapat segera diidentifikasi dan ditangani sejak awal. Dengan begitu, penyebaran penyakit dapat ditekan seminimal mungkin demi menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi seluruh warga Kaltara.

Bagikan Artikel ini