TANJUNG SELOR – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) memberikan atensi serius terhadap lonjakan kasus kematian ibu dan bayi yang terjadi di wilayah Bumi Benuanta. Berdasarkan data terbaru, grafik angka kematian tersebut dilaporkan mengalami peningkatan signifikan hingga dua kali lipat dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Kenaikan yang cukup drastis ini menjadi alarm keras bagi sektor pelayanan kesehatan, baik di tingkat hulu maupun hilir, untuk memperketat pengawasan dan penanganan terhadap ibu hamil serta bayi baru lahir.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltara mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor kompleks yang memicu terjadinya lonjakan ini. Di antaranya adalah keterlambatan penanganan medis, kondisi komplikasi saat persalinan yang tidak terdeteksi sejak dini, hingga kendala geografis yang kerap menghambat akses rujukan cepat ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai.
”Kami terus melakukan evaluasi menyeluruh terkait lonjakan kasus ini. Penanganan di tingkat fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti Puskesmas hingga rumah sakit rujukan harus lebih disinkronkan agar potensi risiko pada ibu dan bayi bisa diintervensi lebih cepat,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret menekan angka fatalitas tersebut, Dinkes Kaltara kini tengah menggencarkan optimalisasi program pendampingan bagi ibu hamil, khususnya yang masuk dalam kategori risiko tinggi (risti). Selain itu, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan (nakes) di daerah pelosok dan pemenuhan sarana prasarana medis di puskesmas-puskesmas terus diprioritaskan.
Masyarakat, khususnya para suami dan keluarga, juga diimbau untuk lebih proaktif memeriksakan kehamilan secara rutin minimal enam kali selama masa kehamilan guna mendeteksi secara dini adanya potensi gangguan kesehatan.

