Putus Rantai Penularan TBC, Dinkes Kaltara Gandeng Pemerintah Desa Buru 15 Ribu Kasus Suspek

By IT Support - Cyber Security Engineer
3 Minimal Baca

BULUNGAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) terus memacu upaya penanggulangan Tuberkulosis (TBC). Penyakit menular ini masih menjadi salah satu tantangan prioritas utama di sektor kesehatan akibat rendahnya angka penemuan kasus awal dan tingkat kesembuhan pasien.

​Kepala Dinkes Kaltara, Usman, mengungkapkan adanya kesenjangan yang cukup besar antara estimasi jumlah warga yang diduga terpapar (suspek) dengan kasus yang berhasil terdata di lapangan. Dari estimasi sekitar 15 ribu warga yang diduga bergejala TBC, baru sebagian kecil yang berhasil dijangkau layanan medis.

​”Kalau angka terduga (suspek) itu sekitar 15 ribu orang. Namun, yang berhasil ditemukan dan tercatat secara resmi baru sekitar 1.700-an kasus,” ujar Usman kepada wartawan, Minggu (31/5/2026).

​Menurut Usman, kondisi ini mengindikasikan masih banyak penderita TBC di Kaltara yang beraktivitas tanpa menyadari kondisinya dan belum mendapatkan pengobatan standar. Padahal, deteksi dini merupakan kunci utama untuk memutus mata rantai penularan di lingkungan masyarakat.

Strategi Jemput Bola Melalui Pemerintah Desa

​Menyikapi hal tersebut, Dinkes Kaltara kini mengalihkan fokus strategi pada deteksi dini secara aktif (jemput bola), bukan sekadar mengobati pasien yang datang ke fasilitas kesehatan.

​Guna mempercepat penemuan kasus tersembunyi, Dinkes mendorong keterlibatan aktif pemerintah desa melalui gerakan terpadu deteksi dini TBC. Aparatur dan kader di tingkat desa dinilai memiliki kedekatan emosional serta geografis dengan warga, sehingga lebih efektif dalam menyisir masyarakat yang memiliki gejala mengarah ke TBC.

​”Jika pemerintah desa bergerak bersama untuk mendeteksi dini, maka upaya eliminasi dan penekanan angka kasus TBC di Kaltara ini akan jauh lebih maksimal,” jelas Usman.

Tantangan Angka Kesembuhan di Bawah Target

​Selain masalah pelacakan kasus, Dinkes Kaltara juga dihadapkan pada rendahnya angka keberhasilan pengobatan (cure rate) yang saat ini masih berada di bawah angka 70 persen.

​Rendahnya persentase ini disebabkan oleh adanya pasien yang putus obat di tengah jalan atau tidak tertangani secara optimal. Usman mengingatkan bahwa pengobatan TBC membutuhkan kedisiplinan tinggi hingga pasien dinyatakan sembuh total demi mencegah resistensi obat dan penularan yang lebih luas.

​”Jika penderita tidak segera ditemukan dan diobati secara tuntas, mereka berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang-orang di sekitarnya. Tugas kita bersama adalah memastikan mereka berobat sampai sembuh,” pungkasnya.

Bagikan Artikel ini